07 June 2018

Suka Duka Reviewer Buku



 

Holaa..

Senang akhirnya bisa kembali lagi disini, menulis di blog yang sudah lama dibiarkan berdebu. Semoga blog ini masih punya pembacanya yaaa. Oh ya, kasih ide dong, kira-kira blog ini diisi apa yaaa.

Kali ini, aku mau sharing tentang suka duka menjadi seorang reviewer buku. Karena aku juga menjadi reviewer buku, blogger buku dan bukan bookstagrammer. Aku nggak tahu yaa, belum suka dipanggil bookstagrammer, soalnya foto-fotoku belum sebagus mereka bookstagrammer yang udah duluan ada. Lagian isi instagram bukuku belum seperti mereka yang udah expert di bidangnya. Aku suka bingung mau foto gaya apalagi buat buku-buku yang mau kureview. Padahal property foto lumayan, tapiii yaa, begitulah. Selalu kehabisan ide buat foto buku.

(Baca juga : Properti Foto)

Sebenarnya, kalau dibandingin dengan dukanya, banyak sukanya sih. Antara lain kita bisa bertemu dan kenalan dengan penulis favorit, penulis yang masih baru. Kemudian juga kenalan sama editor, penerbit. Tahu seluk beluk dunia buku itu seperti apa. 

Tapi, disini, aku mau share ke kalian mengenai apa yang selama ini udah aku lakuin dalam hal mereview buku. Jadi, awal mereview buku, aku belum pernah kepikiran hal seperti ini, tapi, makin kesini, aku jadi kepikiran. Kita, sebagai reviewer buku, bisa dibilang adalah marketingnya penulis dan penerbit dalam mempromosikan buku tersebut agar dikenal oleh banyak orang, dan membuat orang-orang tertarik untuk membeli dan membaca buku tersebut. Do you agree with me? Coba kemukakan pendapatmu, kita diskusi yuk.

Selain itu, aku sebenarnya senang kalau kenalan sama penulis, editor atau penerbit atau mereka yang ada di balik layar dunia buku. Kenapa? Karena aku jadi dapat ilmu banyak banget dari mereka. Dan ilmu mereka bermanfaat positif dan bisa diaplikasikan dalam kehidupanku lho. Tapi, ada lagi nih, aku senang kenalan sama editor, karena aku bisa bantu teman-teman penulis yang mungkin pingin karyanya diterbitkan oleh penerbit, bisa coba aku rekomendasikan, atau aku minta mereka untuk kirim naskah ke penerbit tersebut. Kenapa? Karena sekarang ini banyak banget lho penulis baru yang ingin karyanya diterbitkan, tapi mereka bingung mau masukkin naskahnya kemana. Takut nanti nggak cocok, takut ditolak. Hellow, sebenarnya ditolak, nggak cocok, itu bagian dari proses lho. Siapa tau nanti rejekinya ada di penerbit lain, bisa jadi kan yaa. Nikmatilah prosesnya, siapa tau hasil akhirnya membuat hati bahagia.

(Baca juga : Hobi menjadi Rejeki)

Sebenarnya, aku sendiri punya kriteria tersendiri dalam merekomendasikan atau meminta penulis-penulis untuk mengirimkan naskah mereka ke penerbit. Attitude itu yang utama sebenarnya. Kalau attitudenya kurang baik, aku cenderung ragu nanti sikapnya gimana yaa kalau berhadapan sama editor, berhadapan sama pembacanya. Kemudian karyanya, biasanya nih aku ngandelin feeling buat tahu apakah karya tersebut layak diterbitkan atau nggak. Bakalan booming atau nggak. Lalu, sosial medianya. Jaman sekarang social media penting banget buat berinteraksi dengan pembaca, dengan teman-teman. Kalau dia kurang aktif di social media yang dia miliki, aku cenderung menjadi ragu. Karena untuk promo, penulis sekarang ini, nggak bisa hanya mengandalkan penerbit saja. Penulis juga harus mau ikutan promo. Bisa sharing di social media mereka, kemudian bisa ajak reviewer atau blogger buku untuk mengulas karya mereka. So, beneran deh, kalau ingin karyamu dikenal, kamu bisa mulai dari sekarang lho.

Apalagi sekarang ada banyak platform menulis kan yaa, seperti wattpad, sweek, storial, apalagi yaa? Hmm, agak lupa kan diriku. Mungkin bisa share karya kalian yang ada di platform-platform tersebut ke social media yang kalian miliki. Kemudian, bisa kamu taruh linknya di akun social media kamu. Oh yaa, jangan diprivat social media kamu. Kalau semisal kamu terganggu, kamu bisa buat akun yang memang khusus kamu buat untuk berinteraksi dengan pembaca kamu. Jadi, akun pribadimu tetap aman sentosa. Aktiflah berpromo, ajak pembaca untuk berdiskusi.

Kemudian untuk karya, please banget, jangan nulis tanpa riset. Seriusan. Terus, aku sebenarnya agak miris yaaa, naskah di salah satu platform banyak yang naskah dewasa dan bahasanya astagah, vulgar banget. Terkadang, penulisnya masih usia belasan. Bisakah kamu bayangkan, gimana nggak ngelus dada ayam coba diriku ini? Karena, aku yang usianya udah segini aja (jangan tanya berapa yaa, eh ada yang mau kasih kado nggak, barusan aku ultah lho), baca cerita dengan bahasa yang agak gimana gitu, udah merinding disko. Semisal nih, mau nulis cerita dewasa, sesuaikanlah dengan usia kamu. Kalau masih belasan, ada baiknya nulis cerita remaja aja. Tapi, ada juga beberapa penulis yang usianya sama dengan diriku atau diatasku, menulis kisah remaja juga ada. Hanya saja, yang usianya belasan, please dong, jangan nulis cerita dewasa atau beli buku cerita dewasa. Karena pernah, aku lihat di salah satu toko buku, ada anak pakai seragam SMP, beli buku cerita dewasa. Kenapa aku bisa tahu itu cerita dewasa, karena aku saat itu ditawarin buat ngereview buku tersebut. Can you imagine gimana perasaanku?

Sekarang ini, ada beberapa buku yang menyertakan tulisan di bagian barcode belakang buku, rate usia. Aku senang banget. Karena jadi tahu kan itu buku cocoknya dibaca untuk usia berapa aja. Ada juga yang langsung kasih tau kalau itu novel dewasa. Kalau boleh saran sih, untuk novel bertema dewasa, yang ada adegan dewasanya, for me, kissing scene apalagi sampai ada adegan dewasanya itu buat usia dewasa, dan usia dewasa bisa 21+ atau 25+. Kenapa, di rentang usia tersebut, karena buat aku tingkat kedewasaan di usia tersebut sudah cukup matang lah yaa. Bisa tahu mana yang baik dan mana yang kurang baik, mana yang membawa dampak positif dalam hidup dia, mana yang membawa dampak negatif dalam hidup dia.

Jadi panjang x lebar yaa bahas masalah dunia buku. Tugasku sebagai reviewer buku, tentu saja selain mereview buku, aku juga membuat format promosi bagi penulis yang bekerjasama dengan aku. Nggak semua penulis sih, sebagian iya, aku bantu memikirkan bentuk promosi. Dan juga banyak penulis baru yang berhasil, Alhamdulillah, aku rekomendasikan ke beberapa penerbit yang aku kenal. Berasa kayak staff marketing freelance penerbit yaa aku ini (ada yang mau merekrut aku jadi pegawai di penerbit?). Alhamdulillah.

Adakah teman-teman disini yang ingin direkomendasikan ke penerbit juga? Boleh komen dibawah atau kontak aku via Email atau Instagram yaaa.

Okay, mungkin itu dulu yaaa #PagiPrincess dari aku kali ini. Ahh iya, jangan lupa untuk tetap menulis, sharing, berbagi ilmu, menjalin silaturahmi. Biasakanlah menggunakan bahasa sopan dan anti SARA, berikan kritikan yang membangun, bukan yang menjatuhkan. Tetap bahagia yaa.

Jangan lupa follow instagram aku yaa di @princessashr atau instagram buku aku di @peekthebook.
6 comments on "Suka Duka Reviewer Buku"
  1. Aaah tentang yang kita bahas kemarin, semoga banyak penerbit yang baca tulisan ini dan ngerti keluhan kita ya Mbak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak.. sayang kalau nggak ditulis. Semoga banyak ditulis rate bukunya. Biar nggak banyak pembaca salah beli buku. Suka sedih

      Delete
  2. Setuju nih. Jadi nggak harus kebanyakan baca pengantar atau informasi lainnya pas bela-beli buku.
    Anak-anak juga jadi aman membaca setiap buku yang kita bawakan ke rumah.

    Salam siang dari Lombok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak.. was-was sendiri sekarang tiap beli buku. Takut nggak sesuai usia. Was-was, tiap nemenin ponakan ke toko buku.

      Delete
  3. wah makasih ceritanya jadi tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, kak Tira. semoga bermanfaat yaaa

      Delete

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, kawan! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Custom Post Signature

Custom Post  Signature